Pages

¤Buat Calon Suami¤


Pernikahan atau
perkawinan menyikap takbir

rahasia....

Istri yg kamu nikahi 

Tidaklah smulia khadijah,

Tidaklah setaqwa Aisyah,

Pun tidak setabah Fatimah
Justru istri hanylah wanita akhir zaman yg punya cita-cita menjdi sh0lehah


Pernikahan atau

perkawinan mengajarka kita

kewajiban bersama
Istri menjdi tanah
kamu jdi langit penaungannya,
Istri ladang tanaman kamu pagarnya,

Istri kiasan ternakan kamu gembalanya,

Istri adalah murid kamu mursyid,

Istri bagaikn anak kecil kamu tmpat bermanjanya,

Saat istri jadi madu kamu teguklah sepuasnya,
Ketika istri jadi racun kamulah penawar bisanya
Seandainya istri tulang yang bengkok 
Berhati hatilah meluruskannya.... 


Pernikahan atau

perkawinan menginsafkan kita perlunya iman dan taqwa...

Untk belajar meniti sabar dan ridho
karna memiliki istri yang tak sehebat mana,
Justru kamu akan tersentak dari alpha kamu bukanlah Muhammad Rosulullah atau Isa AS pun Ali karamallahu wajah ,cuman suami akhir zaman yg berusaha menjdi sholeh.

Ketika Yang Disukai Tak Bisa Dimiliki::



Betapa kecewanya hati.
Ketika orang yang kita sukai.
Pada akhirnya tak bisa memiliki.


Akan lebih kecewa lagi.
Ketika orang yang telah kita miliki.
Tanpa alasan yang pasti dia memilih pergi.

Jangan karena hal itu maka menjadikan diri kita terlalu larut dalam kesedihan.
Dan menjadikan diri kita terus tenggelam dalam Kekecewaan yang teramat sangat.

Ketika kita harus kehilangan seseorang yang kita sayangi.
Tak perlu kita terlalu meratapi kepergiannya.
Tak perlu kita terlalu menangisi kepergiannya.
Tak perlu kita terlalu membuang air mata.
Tak perlu kita sampai putus asa dibuatnya.

Karena sesungguhnya..

Dia pergi akan ada yang menggantikan.
Dia pergi akan ada yang lebih baik lagi.
Dia pergi akan menguatkan hati.
Dia pergi akan melatih kita bangkit kembali.

Kepergiannya bukanlah akhir dari segalanya.
Di depan sana masih terbentang luas.
Untuk kita raih dengan sebuah harapan.
Yakinlah suatu hari nanti Allah akan memberi ganti yang lebih baik..

Orang Bijak Berkata:

"Kebahagiaan itu bukan karena DENGAN SIAPA kita hidup. Akan tetapi karena bagaimana kita MENJALANI & MENERIMA hidup dengan tulus dan ikhlas."

Itulah kebahagiaan yang sebenar-benarnya.


Curhatan Sahabat



Malam itu langit sangat indah, bertaburan bintang yang berkelap-kelip. Namun tak tahu kenapa suasana hati sedang tak enak; gelisah tentang hal yang semestinya terjadi. Rasanya menyakitkan saat kita tersadar telah kehilangna Ibunda tercinta. Dan dipondok kecil itu sering aku menangis meluapkan rasa kesedihan. Ketidakikhlasan menerima kenyataan, dan itulah yang membuat sesak dada dan terasa menyakitkan. Aku merasa kesedihan itu hanya menimpaku, ternyata aku salah, karena teman seorang sahabat  yang  duduk disebelahku lebih dulu kehilangan Ibundanya. Dan betapa tegarnya sahabatku itu, dengan keadaan yang menimpa kita berdua dia masih berusaha menghibur dan menguatkan aku.  Dia torehkan tinta diatas kertas putih yang bisa memberikanku kekuatan untuk menerima kenyataan hidup. Buah pena sahabat Isti Faiyyah ( Al-Huda, 30 Oktober 2009).
Sobat kepedihan yang menyayat-nyayat hati kita sama
Aku tahu apa yang kau rasakan dan sebaliknya
Seorang penopang hidup, pelindung, guru telah meninggalkan kita untuk selamnaya
Teramat sangat perih luka ini
Tapi aku tak mau menumpahkannya
Yang hanya akan membasahi kelopak mataku
Sudah terlalau banyak air yang keluar dari mata ini dan aku tidak mau membanjiri sekitarnya
            Jangan menangis lagi sobat
            Memang hati kita perih, tapi…..
            Jangan menangis lagi…
            Ini memang takdir yang harus kita jalani
Kita harus tegar jangan menangis lagi…
Lihatlah langit mala mini pun ikut meneteskan air mata
Dengarkanlah langitpun ikut merintih, ia tahu kepedihan hati kita
Kuatkan hati ! inilah kehidupan
Jangan jadikan ujian membuat kita lemah
Tapi jadikan ujian, cobaan sebagai hal yang akan membuat kita bertambah kuat
Kita akan lebih kuat dari pada mereka yang belum merasakannya
Karena kita telah belajar mandiri sejak dini
Ingatlah diluar sana masih ada yang lebih menderita dari pada kita
            Dan aku masih ingat betul dalam gelap malam, kita saling menumpahkan perasaan yang tak kita mengerti. Malam semakin larut bintang yang semula memancarkan cahaya semakin redup dan berganti awan yang mengumpal hitam. Benar saja malam itu langit ikut merintih, menyaksikan dua anak manusia yang meluapkan kepedihan. Dan kau berkata ‘’ Tak boleh kita meratapi kesedihan dengan berlebih, yang membuat kita susah sebenarnya diri kita sendiri. Kita pasti bisa melewati hari-hari kita dengan senyum yang berarti’’.
            Terima kasih sobat, dari mu aku menemukan dan belajar tentang banyak hal. Tentang keikhlasan untuk melepaskan orang terkasih, karena perpisahan bukan berarti akhir dari dunia melainkan babak baru dengan orang-orang baru.  Tentang kekuatan untuk menjalani kehidupan ke titik tingkat yang lebih baik beranjak dari sebuah keterpurukan. Dalam do’aku menyentuh jiwa indahmu dalam do’a kuraih senyum ridho akan senyummu.  Semoga Allah menempatkan Ibunda tercinta kita di taman surga-Nya. Amin
Salam hangat teruntuk sahabat-sahabatku yang setia dan mau berbagi kesedihan dan kegembiraan bersama. Perasaan yang sangat menjengkelkan disaat kita jauh seperti ini aku ingin kembali seperti dulu saat kita masih bersama-sama. Kita bersama lalui kehidupan dari tidur bareng, makan bareng, mandi pun kita suka bareng-bareng, sekolah bareng, ngaji bareng, teng-teng crit (tenguk-tenguk cerita )bersama bahkan kita sering melanggar peraturan pondok bareng-bareng dari yang bolos ngaos, bolos sekolah, keluar pondok tanpa izin bahkan dari kencan pun kita lakukan bareng-bareng dan sepertinya semuanya kita lakukan bareng-bareng. [ Isfa, Icha, Yuyul, Ira, Faiz, EmYeTe, Mbak Tix-Tak, Aliefah, A’yun, Nisa, Simbah (Muzdalifah) Putri, Ely Boy, ] Best Friend Forever aku merindukan kalian….
Yogyakarta, 08 November 2013

Sayang

Sayang

Bukan aku tak percaya padamu, hanya saja bibir ini kelu saat kata-kata sudah dipangkal lidah.
Sayang
Mana mungkin aku tak percaya pada orang yang aku kasihi dan sayangi?
Aku percaya padamu, sama halnya aku percaya pada takdir yang menuntun kita untuk ikhlas menjalaninya.
Sayang
Maafkan aku, sungguh aku tak berniat untuk membuat kalut pikiranmu. Namun aku tak pernah kuat menahan gejolak hati ini.
Sayang
Sangat sulit untuk mengungkapkan semua yang ada dalam hati dan pikiranku, namun kali ini aku akan berusaha merangkai kata-kata, walaupun tak seindah para penyair . Dan air mata ini menetes dengan derasnya, tak mampu aku membendungnya, kelopak ini perih dan panas, setelah sekian lama aku mampu membendungnya, namun kali ini aku benar-benar tak mampu menahan perihnya batin ini.  Aku berharap kamu mengerti kenapa sikapku berubah, kenapa harus menangis dan kenapa aku tak bisa berucap.
Sayang
Bahagia kudapati saat aku lalui hari-hari ini bersamamu, langit begitu terang, udara begitu wangi, dunia menjadi damai dan terang. Ketika dekat denganmu aku merasa teduh, nyaman, tentram. Inikah cinta? Aku tak tahu, mungkin aku terlalu lebay. Yang jelas aku mengangumimu, memujimu, dan mengharapkan selalu bersamamu.
Kakakku sayang sanggup membuatku menangis, meskipun aku di tengah kebahagiaan. Kakak sanggup membuatku tersenyum, meskipun aku sedang tertatih menahan perih. Kakak yang membuat aku rindu ketika aku baru saja berpisah dari pertemuan kita. Kakak yang sanggup membuat aku tersungkur, membuatku kehilangan semangat ketika aku harus berpisah dan tak ada kabar darimu.
Belum pernah aku ungkapkan perasaan ini, karena takut semua ini berlebihan. Yang jelas dan pasti aku menyanyangimu. Tak tahu sayang seorang sahabat, atau adik, sayang kekasih atau mantan kekasih, sayang sekedar sayang tanpa tahu maknanya.
Sayang
Waktu menjelma kenangan, janji-janji menyepuh pusaka hati. memapah hidup yang tanpamu. Hidup dalam kesendirian. Sendiri di kamar mengingat-ingat aura wajahmu yang menawan. Hingga saat ini aku masih mencintaimu. Kau harus tahu, bahwa aku masih suka menulis tentang cinta dan rindu untukmu, atau surat cinta yang biasa aku titipkan angin yang tiba-tiba membalut tubuhku. Dan aku masih ingat dan faham puisi pertama yang kau tulis untukku. Puisi berjudul “Sepulang Mengantarmu”.
Sayang
Mana mungkin aku kuat menjalani hari-hari seperti ini, saat aku sadar masih bersamamu dan mungkin esok aku bersama yang lain. Tak semudah membalikkan telapak tangan untuk bisa sepenuhnya menyanyanginya dan mencintainya. Jujur saja, dalam setiap detik kesadaranku telah mencoba hentikan rasa ini. menggeser mu dari raga dan hatiku. Dan tak pernah aku mengerti, justru rasa itu selalu datang dengan harapan baru sambil menggenggam erat tanganku, seolah-olah tak ingin aku lepas. Oh Tuhan, bagaimana aku menjalani semua ini???
Sayang
Mungkin tulisan ini tak berinti. Yang jelas aku takut menghadapi hari esok, saat aku sadar bahwa kebarsamaan kita tlah usai. Dan perpisahanlah yang terjadi. :’(
Sayang
Bayangan itu mengahantui setiap hariku, yang menjadikan air mata menganak sungai, yang menjadikan bibir ini mahal mengembang  dan yang menjadikan aku slalu merasa tak pernah ada orang yang bisa mengerti.
Keputusan tersulit yang harus aku buat adalah ketika aku terlalu lelah untuk bertahan. Tetapi aku terlalu sakit untuk melepaskan.

Kamar Hatiku, 18 Oktober 2013


Rindu Rasulullah



Rasulullah dalam mengenangmu, kami susuri lembaran sirahmu. Pahit getir perjuanganmu membawa cahaya kebenaran. Engkau taburkan pengorbananmu untuk umatmu yang tercinta. Tak terjangkau tinggi pekertimu, tidak tergambar indahnya akhlakmu, tidak terbalas segala jasamu. Sesungguhnya engkau rosul mulia. Tabahnya hatimu menempuh dugaan mengejar arti kesabaran, menjulang panji kemenangan, terukir namamu di dalam Al-Qur’an. Rasulullah… kami umatmu walau tak pernah melihat wajahmu kami mencoba mengingatmu dan kami coba mengamal sunnahmu. Kami sambung berjuanganmu  walau tak pernah bersua tapi kami tak pernah kecewa Allah dan Rasul menjadi pembela.

 Baginda Rasul tercinta, shalawat dan salam kami sanjungkan. Sudah lama sekali hati ini kering kerontang, sepertinya kemarau masih agak panjang, isyarat alam belum tampak jelas, mendungpun tak menandakan hujan. Semilir angin bukan lagi tanda peruban musim dari kemarau menuju penghujan. Langit petang berselimut awan tebal menggumpal-gumpal di atas langit sana, pertanda apakah sesungguhnya. Alam jagat raya tak mau lagi mengumbar senyum menawan, entah geram atau sudah bukan sahabat sejati, jika ini yang harus kualami, hati ini akan terus sakit kembali, sampai kapankah kau datang menghampiri, membawa secawan air suci, membacakan madah kemuliaan haqiqi, dari pojok sanubari, kami berharap kau dapat bersenandung lagi, menyimpulkan kegelisan ini menjadi pembangkit nurani, menengadahkan wajah, menatap asa, seraya berucap kata: wahwa bil ufuqil a'la shallallahu alaihi wa alihi wa shahbihi wa sallam. Selamat memperingati isra' dan mi'raj nabi Muhammad shalatullah.

Dalam Sejarah Islam tercatat, bahwa ada peristiwa penting yang terjadi di bulan Rajab ini, yaitu peristiwa Isra dan Mi’raj Nabi Muhammad saw. Peristiwa ini telah mengguncang akidah sebagian besar kaum muslimin pada waktu itu, karena kejadian ini merupakan kejadian yang tidak masuk akal dan perkara yang mustahil terjadi serta tidak bisa diterima dengan logika manusia pada waktu itu. Orang-orang kafir Quraisy beranggapan, bahwa mana mungkin perjalanan Isra dari Masjidil Haram ke masjidil Aqsha ditempuh dalam waktu singkat. Padahal pada masa itu perjalanan sejauh itu membutuhkan waktu kurang lebih satu bulan. Terlebih lagi perjalanan mi’raj dari masjidil Aqsha ke langit ke tujuh hingga ke sidratul muntaha, bagi mereka merupakan hal yang mustahil, dan tidak masuk akal.

Sebagaimana kebiasaan mayoritas umat islam setiap datang bulan Rajab mulai tanggal 1 sampai dengan tanggal 27 Rajab, gegap gempita kita memperingati Isra Mi'raj. Secara lahiriah memang meriah dan terlihat nyata syiar Islam kita. Itu juga bisa menjadi salah satu cara untuk menyatukan umat islam. Melihat islam di Indonesia sendiri sudah berpecah belah, di sana sini saling menyalahkan satu sama lain. Merasa dirinya paling benar sendiri. Namun yang lebih penting adalah hendaknya kita bisa memaknai peringatan Isra Mi'raj ini dengan semakin tawadu' dan lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT. Meningkatkan kualitas Shalat kita, meningkatkan iman dan kepekaan sosial kita.

Banyak hikmah yang bisa kita ambil dari peristiwa isra’ mi’raj. Tergantung dari sisi mana kita melihat peristiwa itu. Meskipun inti pesan utamanya adalah perintah untuk mendirikan sholat, akan tetapi banyak hal yang bisa kita petik dan teladani dari sifat dan perbuatan baginda Rasul. Semoga kita semua menjadi umat Nabi Mahammad yang baik, bersama-sama Beliau kelak di firdaus. amin


Yogyakarta, 1 Rajab 1434 H

Ketegaran Ayah




“Di pangkuannya, aku menemukan ketegaran dan kekuatan dalam keputusasaan" 


Langit berselimut mendung, rembulan menampakkan cahaya temaram, malam itu adalah malam yang kurang menguntungkan bagi keluarga ku, rajutan cinta kasih sayang yang sudah lama ku sulam, kala itu harus terkoyak bagai selembar sutera yang terbakar, entah firasat apa yang aku rasa tentang kenyataan itu. Bahkan saat ibunda tercinta sudah terbaring lemah di salah satu kamar flamboyan, kami masih bisa tersenyum bisa berkumpul bersama. Terbujur kaku, dingin kala di sentuh, terlihat kerut keningnya seakan tak rela penuhi panggilan-Nya, entahlah semua itu hanya cerita yang ku dengar dari saudara, ingin tak percaya namun semua nyata di hadapanku. Alam pun menangis ketika sesosok tubuh indah ku rangkul.  Ia yang ku suciikan dengan air mata.

Jangan karena hal itu maka menjadikan diri kita terlalu larut dalam kesedihan.
Dan menjadikan diri kita terus tenggelam dalam Kekecewaan yang teramat sangat. Melihat ketabahan Ayah menjadikan segalanya berubah. Aku harus lebih kuat dibandingkan ayahku, karena pada akhirnya anak-anak ayah yang akan menguatkan dan mendampingi sampai hari akhirnya.

Betapa sabar dan tabahnya ayah saat ini? hidup tanpa ada pendamping dalam menjalani kehidupannya, namun tak pernah ku temui beliau mengeluh apa lagi berputus asa dalam menapaki jalan duniawi ini. Aku tahu pasti beliau kesepian, dalam pekat malam tak  ada satu pun putra putrinya menemaninya, anak pertama yang sibuk dengan pekerjaannya, ihtiyar mendapatkan rizqi untuk menyambung hidup keluarga, anak kedua yang sudah berkeluarga tidak begitu peduli dengan kesepian ayah sibuk dengan istri keluarga kecilnya, anak yang ketiga pergi merantau demi kehidupan yang lebih baik, dan anak yang keempat, satu-satunya anak perempuan yang terlalu nekat melanjudkan pendidikan ke perguruan tinggi negeri di kota pendidikan meskipun tak ada jaminan dari keluarga untuk tetap membiayainya kuliah. Namun aku tahu Allah tidak tidur, Allah maha mengetahui segala yang terjadi.

Hidup yang seperti itu tetap baliau nikmati, tak pernah aku liat beliau meninggalkan sholatnya. Meski beliau tidak begitu banyak ilmu agamanya namun beliau selalu berusaha menjadi hamba yang taat kepada  penciptanya. Mungkin beliau ingin mempunyai pendamping baru, namun ternyata ayah tegar dan kuat untuk menjalaninya sendiri. entah kekuatan apa yang ayah punya. Ternyata aku masih lemah tak setegar ayah, di liat dari luar aku terliat tegar namun kenyataan berkata lain, hati ini rapuh.

Saat aku terseret jauh dalam kesedihan ayah selalu hadir. Anakku yang baik hati, sadarlah, dan ingatlah!, hidup adalah perjuangan dan pengorbanan, aku berusaha sadar dan menerima kenyataan dengan ikhlas dan penuh ketenangan jiwa, sungguh menjadi orang yang bersifat sabar tidaklah semudah yang pernah dahulu kala aku bayangkan sewaktu membaca teori-teori pengendalian emosi, apalagi seperti waktu menasihati orang lain. Tidak. Ayah yakin semua pasti ada hikmahnya, insya`allah, yakinlah, ia menutup kalam hikmahnya yang sembari beranjak meninggalkan tempat duduknya. Sekarang tenangkanlah fikiranmu dengan berdzikir dan bershalawat, ia lalu keluar menutup pintu kamar ku

Hari-hari ku berlalu tanpa memberi banyak arti, aku tahu semua itu adalah tahapan hidup yang harus ku lalui, semua manusia hampir mengalaminya, kesadaran ku muncul secara tiba-tiba, kini aku terobsesi untuk menemukan kesejatian diri, seperti kesejatian hidup yang dialami oleh ayah ayah ku, aku ingin menelusuri jejak imajinasinya, sambil terus berkonsentari meluruskan garis-garis bengkok kehidupan ku yang tampak malang melintang, dengan keinginan kuat dan ketabahan ku dalam menanti kesuksesan yang berkabut awan kesengsaraan itu, aku pun pasti akan  memetik hasil yang cukup memuaskan, sebuah prestasi besar; menguasai jiwa, sedikit demi sedikit, aku terus berusaha mengikuti jejak langkahnya dalam menata pagar hati serapi mungkin, diri ku bahkan hampir tak percaya, sepertinya aku sedang dalam angan-angan saja, adakah aku sedang berada dalam alam mimpi?! pertanyaan itu yang selalu muncul di benakku. Sesungguhnya aku sadar, bahwa aku berada dalam alam nyata. subhanallah, maha suci dzat yang memudahkan hambanya dalam mengikuti jejak langkah orang-orang yang diridlai-Nya dalam perkataan dan perbuatannya Itulah pergulatan jiwa ku yang sempat mewarnai kehidupan dalam mengawal kesejatian diri dan mengukuhkannya, percobaan untuk menemukan kesejahteraan dan kedamaian hidup, pernah ku percayakan pada materi, akal dan sekumpulan teori keilmuan yang ternyata tidak membawa efek keberuntungan yang hakiki, justru keberadaannya menjadikan aku jumud dan terpasung dalam keputusasaan serta kegalauan jiwa, dalam tafakkur ku waktu itu, dalam sembah sujud ku, dengan lantang aku mengadu, bersimpuh di atas sajadah kasih sayang Nya, menorehkan tinta sejarah hidup ku beberapa tahun lalu, mengabadikan tetes air mata ku dalam kekhusyu`an do`a pinta ku pada Nya, aku memohon ampun atas segala kesalahan masa lalu ku dalam menentukan jalan beragama dan berinteraksi antar sesama, aku keliru telah menuhankan sesuatu selain dzat Nya, "Ya Allah! jadikan aku seperti para hamba Mu yang engkau cintai karena ketulusannya dalam mengabdi, jadikan aku seperti petani yang ikhlas menanam padi di hamparan sawah Mu yang berlumpur, ia mencangkulnya sendiri, ia merawat dan memanennya untuk kesempurnaan dalam mengabdi pada Mu, ia menginfakkannya sebagian dari hasil panennya untuk para fakir miskin disekitarnya, ia petani yang berhati nurani suci, ia guru kehidupan yang sejati, ia bapak bangsa yang mendidik kemandirian dalam hidup ku, ia pribadi yang pantang menyerah, ialah yang melahirkan ayah ku, yang membimbingnya menjadi anak yang berbakti, darinya aku lahir membawa pesan inspirasi ini, dan kini aku sedang dalam proses mewujudkan impian besar sang inspirator asasi dalam hidup ku ini, untuk menjadi manusia yang tidak mudah putus asa dalam mewujudkan asa, bermanfa`at untuk agama, nusa dan bangsa, seperti ia ketika menanam padi, untuk kesejahteraan banyak orang, bukan hanya sekedar untuk kepentingan pribadi". Saat semua sudah berlalu, keputusasaan pun menyapa dalam hidup Aku seperti tak mampu menahan tangis haru, subhanallah "di pangkuan ayah , aku menemukan ketegaran dan kekuatan dalam keputusasaan" Akhirnya, Semoga Allah Swt. mengampuni dosanya dan nantinya kami dipertemukan dengan ibu di surga firdaus bersama orang-orang mulia, amin.



Yogyakarta, 10 Juni 2013



Cinta pun Membutuhkan Alasan




Kamu yakin ada kesetiaan di atas kulit Bumi ini? Entahlah. Suatu kali aku berhasrat untuk bercengkrama denganmu. Ah, maaf. Mungkin aku mengganggumu ( ? ).  Kerab kali aku ingin menjauh darimu, kau selalu memegang erat tanganku, apa maksudmu?. Sedang saat aku menikmati kebersamaan kita. Selalu saja kau bilang, “ Aku memcoba setia dengan masku disana. Memegang kepercayaannya.” Namun aku enggan menerima alasanmu yang berpegang pada ke-setia-an.

Sebenarnya apa yang kamu inginkan dariku? Pernahkah kau berfikir betapa runtuh hati ini saat kau bilang ingin setia pada masmu, kau anggap aku ini apa? Bonekamu? Yang selalu mendengarkan ocehanmu tentang masmu itu. Mas yang sering kau bangga-banggakan di depanku. Sesekali kau tersenyum puas. Kau bilang lagi padaku “ Mas aku suka nasehat baikmu, aku suka senyumanmu, kebaikakanmu.”. semua itu kau artikan sebagai apa? Aku yang dari dulu mengagumimu sangat senang mendengar ucapanmu itu, berharap semua itu kau ucapkan dengan kesungguhan hati. Namun, semua itu hanya ucapan simpati belaka. hatimu tak pernah untukku. Benarkah???

Ratusan hari kita lalui hari bersama. Apakah semua ini tak ada artinya? Aku selalu mengganggap dirimu sebagai kekasih, namun aku tak pernah kau anggap ada. Tak hanya aku yang mengganggap kau sebagai kekasih, banyak orang yang kenal dengan kita, meggaanggap kau itu kekasihku, bukan sekedar teman biasa. Kemesraanmu di depan mereka yang menjadi bukti bahwa kau juga menyayangiku. Namun di waktu lain kau selalu mengelak kalau kau menyanyangiku. Kau bilang, kalau kau baik kepada siapa saja, tapi aku merasakan perbedaan yang jelas. Sentuhanmu sangat berbeda.

Aku pun harus tahu apa alasanmu selama ini bertahan denganku, dan sebenarnya aku mempunyai alasan tetap mempertahankanmu di sisiku, selalu di sisiku. Di sini cintaku ini pun membutuhkan alasan yang sesungguhnya darimu jika kau ingin tetap bersamaku. Namun sayangnya sampai saat ini kau tak pernah memberikan alasan kenapa kau mau menghabiskan hari-hari ini bersamaku. Cukup sampai di sini!

Entahlah, aku tak mengerti apa yang kamu mau. Tak kuasa aku menjalani cinta yang tak menentu. Aku putuskan untuk mundur, bukan berarti aku memutuskan persahabatn kita, namun kita sudahi sandiwara ini. Aku tahu kau tidak ingin menyakiti masmu, tapi sadarlah kau telah menyakitiku selama ini. Biarkan semua berlalu dengan sendirinya. Mulai saat ini aku akan pergi menjauh darimu. Ketempat dimana kau tidak akan menemukanku.

Cinta memang sesuatu yang menakjubkan, kau tak perlu mengambilnya dari seseorang untuk diberikan kepada orang lain. Kamu selalu memilki lebih dari cukup untuk kamu berikan kepada orang lain. Aku yakin tanpaku kau akan melalui semua ini dengan penuh kesabaran dan hikmah, meski tak ada aku yang setia menasehatimu. 
*Tulisan ini dibuat bukan untuk maksud tertentu. Sebuah ide nakal yang berada dalam fikiranku, dari pada hanya menjadi sebuah onani gagasan maka aku beranikan untuk menuangkan dalam sebuah tulisan. Catatan tentang Cinta. Cinta pun membutukan alasan yang sesungguhnya. Meski terkadang alasan tidak perlu di ungkapkan, namun dengan bukti yang nyata, itu akan menjadi alasan kenapa cinta harus bersama dan berpisah. 

Yogyakarta, 04 Juni 2013