Pages

Surat Untuk Bunda





Assalamu’alaikum…

Bunda apa kabar disana? Alhamdulillah Nanda sehat. Mudah-mudahan Bunda dan keluarga senantiasa sehat dan tetap dalam lindungan-Nya.

Maafkan Nanda, yang telah lancang mengirim surat kepada Bunda, tapi hati Nanda senantiasa  menangis mengurung rindu.

Bunda, Nanda rindu

Walau belum ada sebulan Nanda terpisah. Nanda merasa kehilangan sekali… terasa sudah setahun lebih. Teringat wajah Bunda yang ayu, wajah yang selalu memancarkan sinar.

Nanda khawatir jika Nanda tak bisa lagi merasakan kasih sayang Bunda

Seandainya Bunda bisa hidup selamanya bersama Nanda, Nanda akan selalu membahagiakan Bunda

Nanda yang telah mandiri karena Bunda akan menjaga Bunda

Nanda tidak akan menyia-nyiakan nikmat yang telah Allah berikan kepada Nanda untuk bersama Bunda

Bunda berada jauh dari Nanda sekarang

Nanda tak pernah lagi mendengar nasehat indah , kecup tulus diubun-ubun

Dan do’a indah yang Bunda panjatkan pada Allah untuk Nanda

Ahh, kenapa terlalu cepat Allah memanggil Bunda kehadapan-Nya?

Maafkan Nanda,   yang tak sempat hadir diakhirmu Bunda

Maafkan Nanda, yang kurang berbakti di harimu

Lihatlah Bunda, gadismu ini telah dewasa

Tak satu katapun terlupa

Apa yang engkau kata

 Nasehatmu adalah jubahku

Jasamu adalah nafasku

Bunda… tersenyulah dalam lelapmu

Kecup indahku takkan lelah menyapa

Do’aku selalu mengalir dalam hembusan nafasku

Allah akan memberikan istana yang indah

Penuh kenikmatan yang abadi untukmu Bunda.


Yogyakarta, 12 Mei 2013





Aku Ingin Menangis Dipangkuanmu




  
Sewaktu kecil, aku selalu mencari Ibu kala teman-teman menyakitiku dan ibu berkata, “ Sudahlah Nak, tidak mengapa. Besok kamu dan dia akan berteman lagi.”

Sewaktu aku remaja, aku selalu mencari ibu kala teman-teman mengejek, “Wajahmu jelek dan kamu tidak punya apa-apa. Ibu pun berkata, “ Sudahlah Nak, tidak mengapa. Kamu adalah gadis tercantik di mata Ibu karena kamu gadis yang terbaik.”

Sewaktu aku beranjak dewasa, masih saja  aku ingin mencari ibu kala tugas-tugas kuliahku menumpuk aku selalu berharap Ibu berkata, “Sudahlah Nak, kerjakan dengan sungguh-sungguh. Ibu akan turut mendo’akan. Semoga hasilnya baik, ya.” 

Sewaktu aku dewasa, kala jodoh tak kunjung datang. Tak ada lagi kata-kata dan nasehat Ibu. Dan aku membayangkan Ibu berkata, “Sabarlah Nak, Allah sedang memilihkan jodoh yang terbaik untukmu. Ibu akan mendapatkan agar jodohmu segera datang. Ya.”

Bu, do’amu terkabul sekarang aku sudah menjadi seorang wanita.

Bu, saat ini aku benar-benar jauh darimu. Aku merasa betapa berat dan mulia tugas seorang ibu.
Bu, tak jarang aku ingin berlari dan segera memelukmu kala begitu banyak persoalan hidup menghampiri. (Namun semua itu, selamanya hanya akan menjadi keinginan)
Bu, aku ingin menangis di pangkuanmu
Bu, aku rindu ibu
Masa-masa bersama tinggallah kenangan. Dan semua itu selalu hidup menyemangatiku
Bu, aku ingin seperti dirimu yang selalu hadir untuk anak-anakmu. Merasakan suka dan duka bersama. Mencerna kesedihan yang selalu segera menjadi kebahagiaan
Bu, engkaulah yang mengenalkan aku akan Allah, Muhammad dan kehidupan
Engkaulah yang mengajarkan padaku untuk selalu berharap hanya pada Allah karena Dialah yang mengabulkan do’a
Telah aku ukir tegas jejak dimasaku bahwa engkau yang terindah

Do’aku, semoga engkau berada di istana keabadian. Tersenyumlah  dalam lelapmu Ibu.

Yogyakarta, 14 Mei 2013

Kisah Cinta Antara Aku, Kamu dan Dia

Aku tidak akan bercerita tentang sebuah kisah inspirasi bukan cerita tentang keajaiban dalam hidup, ini cerita sederhana tentang cinta. Cinta yang dimiliki seorang wanita untuk pria dan pria untuk wanita. Cinta yang membuat rumit segalanya.
Aku menulis kisah ini di bawah deraian air mata yang tak henti-hentinya mengalir. Tak lagi aku pedulikan bulir demi bulirnya membasahi keyboard komputer. Aku tetap menarikan jemari di antara tuts-tuts yang mulai becek dengan penuh harap ada orang yang mau mendukung dan peduli pada deritaku ini. Segala rasa bersalah menghampiri diriku. Sebelum aku lanjutkan kisah ini. Aku  sampaikan permohona maaf yang amat mendalam untuk dua lelaki yang selama ini setia menghadapi keluh kesahku, setia menghadapi polah tingkah yang menjengkelkan, kesabaran untuk menghadapi setiap kemarahanku, kedewasaan saat menghadapi kemanjaanku. Beruntung aku mendapatkan cinta kalian. 
Sunggh maafkan aku. dengan ketulusan yang engkau berikan, saat kita jauh aku malah melakukan kesalahan yang sulit untuk dimaafkan.
Maafkan aku menduakanmu, mencintai dia di belakang kamu… kamu…
Salahkah semua tingkahku, yang keterlaluan menyakiti kamu…kamu…
Ku tak bisa menahan rasaku, saat kau jauh dariku, tak bisa hidup tanpa cinta…      cinta…
Maafkan aku  melukis luka membuatmu bersedih, mengundang air mata
Cinta tak mengapa kau marah, tapi satu ku pinta jangan kau usaikan kita…
Memang begitu adanya, itulah perasaan membuat aku lemah.
Memang semua ini tidak adil untukmu ataupun untuknya. Aku terlalu egois untuk tetap ingin bersamanya dan tetap ingin kau cintai. Namun inilah kenyataan. Maafkan aku jika selama ini aku berpura-pura mencintai kamu, namun dengan aku tidak bisa melanjutkan hubungan yang lebih serius dengannya, aku tidak ingin kehilangan kamu seseorang yang mencintai aku dengan ketulusan Ini juga hal yang tersulit yang harus aku lalui. Saat menghadapi kenyataan, aku harus terpisah dengan orang yang aku cintai dan mencintai aku. Kita masih sama-sama mencintai, namun apa daya orang tua tidak merestui hubungan kita. Maka jalan yang harus kita tempuh, kita harus terpisah. Namun ternyata sulit untuk kita tidak saling berkomunikasi. Apalagi kita berada dalam satu kota, satu universitas sehingga hal tersebut mempermudah kita untuk tetap menjalani hari-hari selayaknya sepasang kekasih. Yang saling memberi perhatian . Saling membantu saat salah satu menghadapi kesulitan. Saling menguatkan di saat salah satu membutuhkan dukungan.
Dan pada akhirnya kamu, teman yang telah aku kenal sebelum aku mengenalnya. Datang dengan menyatakan perasaanmu selama ini, memang benar aku simpati padamu namun itu bukan berarti cinta. Jika kamu benar-benar mencintai aku, kenapa dulu sewaktu aku belum mempunyai kekasih kamu tak pernah memastikan hubungan kita, dan pada saat itu aku tidak suka hubungan ini tergantung. Setelah itu aku sudah mempunyai kekasih kamu datang dengan sejuta harapan. Namun aku tidak ingin memulai hubungan ini dengan mu karena aku telah bersamanya. Namun aku tidak ingin kehilangan teman sebaik kamu. Dan saat itu kamu benar-benar selalu berusaha untuk mendapatkan balasan dariku. Benar saja saat hubunganku dengannya harus terpaksa berakhir, ujung-ujungnya aku menerima cintamu. Meski jujur aku belum bisa mencintaimu, aku kagum dengan keseriusanmu untuk mendapatkan balasan cinta dariku. Aku berpikir aku bisa belajar mencintaimu. Walau kenyataan saat kita menjalin hubungan menjadi sepasang kekasih aku masih menjalin komunikasi dengan mantanku. Menjalin hubungan yang selayaknya kekasih. Walaupun aku selalu mengelak jika kita pacaran. Namun kenyataan membuktikan bahwa kita masih pacaran. Dengan sadar aku telah menyakitimu. Dia yang selalu mengingatkan aku untuk tidak putus komunikasi denganmu, dia yang selalu menasehati aku untuk tidak kasar dan cuek terhadapmu.Dia juga yang membuat aku belajar untuk mencintaimu. Namun dia juga sulit untuk melepasku untukmu saat ini. Namun pada akhirnya nanti aku akan melepas tali yang mengikat kita berdua.
Dia tahu kamu orang yang baik dan jelas ketulusan cinta yang kamu berikan. Dia juga yakin pada kamu di saat nanti aku dan dirinya benar-benar berpisah, aku bersama dengan orang yang tidak salah, dengan orang baik seperti kamu. Orang yang bisa menuntunku, dan orang yang bisa menjadi imam sholatku dan anak-anak kita kelak.
Kita tahu apa yang kita lakuakn ini salah. Cinta kita terlarang namun apa daya kita untuk membendung perasaan kita. Kita berjanji berusaha untuk mencari cara, jalan terbaik untuk kita mengakhiri hubungan ini. Jujur, ini sangat sulit bagi kita. Benar-benar sulit. Tapi kita akan berusaha karena kita sama-sama tahu cinta kita tidak bisa abadi, cinta yang halal kita memiliki seutuhnya, cinta yang menghantarkan pada ikatan pernikahan. Meski dulu aku tidak pernah main-main dengan hubungan kita. Ternayata takdir tidak berpihak padaku.
Permohonan maaf dari ku dan darinya untukmu. Maaf telah menodai ketulusan cintamu. Hingga akhirnya sekarang kamu tahu akan kenyataan ini. Besar harapan ku dan harapannya kamu mau memaafkan kesalalahan ku dan kesalahannya. Dan terima kasih, darimu aku telah belajar tentang sebuah kesabaram , ketulusan dan kesetiaan. Meski aku belum bisa mengamalkannya
Aku tidak meminta kamu untuk tetap mencintai aku, atau melanjutkan hubungan kita. Aku tahu sulit bagimu untuk memaafkan dan menerima kenyataan ini. namun inilah kisah yang terjadi. Sudah terjadi di depan mata. Hanya satu permintaanku jangan kau gantungkan hubungan kita. Jelaskanlah bagaimana hubungan kita ini. jika memang semua ini berakhir sampai disini akhirilah denga baik-baik, karena semua ini dimualai dengan baik. Jika kamu ingin melanjutkan hubungan kita bicaralah. Jika kamu diam aku tak tahu apa yang kamu mau. Jangan hanya menunggu takdir, takdir tidak akan berubah jika kamu sendiri tidak bertindak merubahnya . Sungguh tersiksa menjalani hubungan tanpa adanya kepastian. Aku tahu kamu butuh ketenangan untuk mencari keputusan. Dan aku akan sabar menunggu keputusan terbaik yang kamu pilih. Saat ini aku merasakan sebuah kehilangan yang menyiksa. Kehilangan yang tak pernah aku banyangkan sebelumnya. kehilangan yang amat menyakitkan. Kehilangan orang yang tulus mencintai dan menemani aku. Penyesalan dan derai air mata yang menemani hari-hari yang aku lalui. Betapa kejamnya diriku menyakiti manusia berhati malaikat sepertimu. Aku baru sadar bahwa Aku Mencintaimu, aku tak ingin kehilanganmu.
Dan aku memohon maaf padanya, aku telah membawamu dalam kerumitan masalah. Terima kasih selama ini telah mengajari aku tentang banyak hal dalam kehidupan. Meski kita tak bisa bersama namun besar harapanku, sampai akhir hayat tetaplah menjadi kakakku.  Meski ini sulit bagi kita, namun apakah cinta yang pernah kita jalin akan menjadikan permusuhan bagi kita? Kenapa indah dan sucinya cinta kita berubah menjadi racun. Aku yakin kita bisa dewasa dalam menghadapi masalah ini. Walaupun setelah ini kita akan sedikit demi sedikit menggurangi komunikasi, namun tidak ada alasan kita putus persaudaraan apalagi musuhan.
Saat ini aku hanya bisa memohon kepada Allah, agar memberikan jalan terbaik untuk ku, kamu dan dia. Pada saat ini kita memohon kepada Allah mawar yang segar namun Allah memberi kita kaktus berduri, kita meminta kepada Allah binatang mungil Allah memberi kita ulat berbulu. Kita sangatlah kecewa dan sangat sedih. Namun siapa tahu jika kaktus berduri itu berbunga sangat indah dan ulat pun berubah menjadi kupu-kupu yang cantik. Itulah jalan Allah, indah pada waktunya. Allah tidak memberi apa yang kita harapkan, tetapi Allah memberikan apa yang kita perlukan. Pasti kita kecewa dan sedih namun di atas segalanya Allah telah merajut yang terbaik untuk kehidupan kita. 
Kita tidak dapat melepaskan sesuatu karena baik/indah
Kita tidak dapat melapaskan sesuatu karena kita takut
Kita tidak bisa melepas seseorang karena hati dan fikiran kita tertuju padanya
Kita belum tentu akan mendapatkan seseorang yang lebih baik dari sebelumnya
Kita harus melepas seseorang bukan berarti akhir dari dunia
Melainkan babak baru, dengan orang-orang baru
Kita harus melepas seseorang bukan pilihan
Melainkan perjalanan kehidupan ketitik yang lebih baik bukan sebuah keterpurukan
Kita harus melepas seseorang karena memang inilah jalan kehidupan datang dan pegi silih berganti.
****

Merenung seperti gunung
Mengurai hidup dari langit
Jejak-jejak yang tertinggal banyak menyimpan rahasia hidup
Bersandar pada waktu
Belajar pada takdir
Inilah hidupku
Inilah kenyataan hidup yang aku hadapi
Meski kelam tak aku pungkiri bahwa ini hidupku.
Salatiga, 14 Agustus 2010
 Yogyakarta, 2013    

Sebuah Kerinduan















Bulan tak nampak, bintang  bersembunyi
Lentera pun mulai meredup
Angin malam menyapa kesunyian ini
Dan bayangan masa silam menarikku kembali
Ibuku tercinta… aku merindukanmu
Wahai, pengasuh penuh suka senyum
Membelai dengan kelembutan
Suara lembut menyapa setiap saat
Engkaulah mata air kehidupan

Ibu…
Kadang aku tahu harus mengucapkan apa
Berterima kasih atas semua yang engkau lakukan
Tapi, lalu semua kata terbang entah kemana
Secapatnya hembusan angin

Bagaimana aku bisa cukup berterima kasih
Pada orang yang membuat hidupku lengkap
Pada orang yang memberikan kasih sayang
Yang membuat jiwaku terbentuk mantap

Bagi kerelaanmu membesarkanku
Menerima segala kelemahanku
Tidak mencintai karena terpaksa
Tapi mencintai dengan ketulusan hati

Dan karena itu aku sadar
Satu-satunya cara menyatakan
Satu-satunya terima kasih yang bukan sekedar
Hanya ungkapan jelas dalam ungkapan


Ibu…
Tersenyumlah dalam lelapmu
Do’aku menyentuh jiwa indahmu
Dalam do’a ku raih rindu dan senyummu
Dalam do’a ku sapa cinta kasihmu Ibu…


Yogyakarta, Desember 2011

Wajah Ibu




Kepada Ibu


Ibu, malam ini aku teringat lagi wajahmu
Wajah yang ayu, wajahmu yang ibu
Masih aku ingat saat kau membelai nyanyian kalbu
Bahagia kutemukan surga

Ibu, malam ini aku teringat lagi wajahmu
Wajahmu yang  elok, wajahmu yang selalu memberi raut indah
Wajahmu yang selalu bersinar bagaikan cahaya
Yang dulu selalu setia tersenyum untukku
Yang menyentuhku dengan kelembutan

Ibu, setiap ku teringat wajahmu
Embun sejuk menyirami hati
Dalam lelapku selalu terjaga oleh bidadari
Menjadi selimut yang memberi kehangatan
Langit terasa terang, udara begitu wangi
Dunia terasa damai dan tenang

Tapi Ibu…
Alam seakan menangis 
Saat aku tersadar wajah indah itu telah terlelap
Tak bisa lagi ku temui senyum yang tulus itu
Seakan matahari  berhenti menyinari dunia
Betapa Ibu sangat berarti dan bagiku engkau tak akan terganti

Ibu, malam ini aku teringat lagi wajahmu…

Yogyakarta, Agustus 2011




Karyaku, ku persembahkan kepada almarhumah Ibuku tercinta

Janganlah Melihat Kepada Keburukkan Seseorang

"Janganlah melihat kepada keburukkan seseorang kerena tidak akan wujud pengakhirannya tetapi lihatlah kepada kebaikan yang akan membolehkan k ita menumpang dan menikmatinya"

 Seharusnya aku tidak melihat mu dari sisi burukmu. Sebenarnya yang aku lihat bukan keburukan, tetapi kebaikan yang di mataku menjadi sesuatu yang buruk. Pengorbanan yang kamu lakukan untuk mendapatkan cinta dari ku sungguh luar biasa. Namun aku tak pernah menghargainya. Sudah 2 tahun kita mengenal dan selama itu juga kamu berusaha untuk bisa menjadi lelaki yang aku anggap ideal. Walau dia berada jauh dari ku, dia selalu menyempatkan diri untuk menemuiku. Tapi apa yang sering aku lakukan? Sangat tidak menghargai usahanya. Aku selalu marah dengan hal kecil yang tidak aku suka, padahal biasanya dengan orang lain aku tidak semarah itu. Tapi tidak denganmu. Sesuatu yang sebenarnya bukan kesalahan, tapi aku bilang sama dia: “ Aku tak suka kamu kaya gitu!, Aku jengkel, kamu selalu melakukan kesalahan yang sama!, Aku cuman pengen tersenyum dan aku pengen bahagia tapi kenapa kamu nggak bisa buat aku bahagia?”. Padahal dia TIDAK pernah melakukan kesalahan yang sama, dia TIDAK melakukan hal yang tidak aku suka, dan satu lagi dia sudah berusaha penuh buat aku bahagia.
Betapa sabarnya kamu menghadapiku. Dengan kelakuanku yang sangat tidak baik itu, dia sama sekali tidak pernah marah padaku. kamu hanya berkata “ Dek, yang sabar. Mas sudah berusaha dengan maxsimal. Dek, maafin, Mas.” Aku juga pernah melihat dia menangis karena dia bingung dengan sikapku, yang selalu menyalahkan apa yang dia lakukan. Dia ke kiri aku marah, dia ke kanan aku marah. Karena dia tak bisa marah kepada ku, dia luapkan dengan menangis. Betapa tega dan kejamnya diriku. Tak pernah bisa menghargai usaha orang yang begitu menyanyangiku.
Entahlah, kenapa aku selalu bersikap seperti itu. Jujur aku sebenarnya tak ingin seperti itu, aku sadar hal seperti itu menyakiti dia, dan aku sadar tidak sepantasnya seperti itu. Tapi setiap aku berkomunikasi lewat hp ataupun bertemu langsung sikapku langsung berubah angkuh, cuek, jutek, judes, pemarah, nggak sabar pokoknya hal-hal yang jelek. Sebenarnya apa yang terjadi padaku? Kenapa aku selalu memperlakukanmu dengan tidak sopan, dan tidak sepantasnya aku melakukan hal buruk padamu.
Aku selalu berusaha untuk memperbaiki sikapku padamu, ternyata aku bisa bersikap manis di depanmu. Tapi hal itu tidak berlangsung lama. Setiap kita bertemu entah pada awal atau akhir pertemuan, aku pasti marah padamu dengan alasan yang selalu tidak jelas. Yang paling parah dia jauh-jauh untuk menemuiku setelah sampai disini, aku sama sekali tidak menemuinya.
Aku selalu menyesal dengan hal yang aku perbuat. Tapi sepertinya penyesalanku tidak bisa merubah sikap jelekku. Pernah aku sangat menyesal saat kamu bercerita jauh hari setelah kejadian dan aku minta maaf dengan air mata yang menganak sungai. Saat itu kamu pulang kerja untuk menemuiku tapi aku marah, lagi lagi dengan alasan yang tidak rasional. Kamu pulang dengan hati yang sakit dan kecewa, saat itu hujan sangat deras. Tepat adzan magrib kamu jatuh dari motor karena ada lobang besar di jalan, hujan deras sehingga air mengenang di lobang. Katamu saat itu sama sekali tak ada orang yang bisa membantumu, langit sangat gelap dan hujan tak kunjung reda. Kamu berusaha sekuat tenaga untuk berdiri dan pulang ke rumah. Penyesalan hanya penyesalan. Setelah kejadian itu aku masih sering marah padamu.
Ya Allah, kenapa aku menjadi orang yang paling jahat? Bagaimana caranya aku bisa menghargai perjuangannya? Bagaimana aku bisa menjadi perempuan yang santun dan manis di hadapannya? Aku yakin dia akan menjadi suami yang baik. Tapi bagaimana aku? bisakah aku menjadi istri yang baik untuk dia? Dengan sikapku yang tak pernah merasa puas atas perngorbanannya, dengan tutur kataku yang kasar saat aku bercakap dengannya, dan dengan segala kesalahan yang pernah aku perbuat kepadanya.
Mungkin hanya kata maaf yang bisa aku tulis karna saat ini aku belum bisa menyampaikan kata maafku yang tulus untuknya. Meski sikapku seperti ini aku sangat takut kehilanganmu, aku yakin belum tentu orang yang aku anggap ideal dan baik dia bisa menerima aku apa adanya, bisa menerima kekuranganku dan bisa sabar menghadapi kegilaanku. Saat aku membaca Al-Qur’an aku temui ayat yang berarti "Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. " (Al-Baqarah : 216) . mungkinkah semua yang terjadi padaku sama dengan yang di maksut ayat tersebut?
Rasanya aku tak pantas untuk mendampingi lelaki yang sudah banyak berkorban untukku. Dia terlalu baik untukku, sedang aku? Sungguh ini tak adil untuknya. Kenapa harus aku yang dia cintai? Aku yang saat ini baru berusaha untuk mecintainya dan menghargai segala pengorbanannya.
Ya Allah, jika memang dia jodohku, maka dekatkanlah dia padaku, dan biarkan aku bisa menerima dia apa adanya. Aku ingin sekali menjadi perempuan yang bisa membahagiakan dia. Aku sangat berharap kamulah yang akan menjadi imam sholatku dan anak-anak kita kelak.
MAAFKAN AKU…
Saat seperti ini baru aku merasakan kehilangan yang amat menyakitkan. Dan baru sekarang aku merasakan kesakitan karena cinta. Karena kesalahanku aku kehilangan lelaki baik sepertimu. Sungguh aku mencintaimu, namun aku tak bisa memaksamu untuk tinggal lebih lama didalam hatiku. Aku tak bisa memaksamu untuk melanjutkan hubungan kita ini.
Hanya satu kata MAAF.
MAAFKAN AKU, SALAHKU.

Yogyakarta, 31 Maret 2013

Menelaah Gerakan Pasca-Reformasi


Judul buku: Ideologi Gerakan Pasca-Reformasi: Gerakan-gerakan Sosial-Politik dalam Tinjuan Ideologis
Penulis : As’ad Said Ali
Halaman: xii+156
Terbit: Februari 2012
Penerbit: LP3ES, Jakarta
Harga: Rp. 35.000
Peresensi: Sri Wahyuni*

Sungguh luar biasa dan mengagumkan! Ungkapan itulah yang pantas disematkan di pundak Dr. As’ad Said Ali, lelaki berlatar belakang pesantren nan kuat itu mendapatkan gelar Doktor Honoris Causa dari Fakultas Hukum Universitas Diponegoro pada tanggal 11 Februari kemarin. Selepas kuliah di Fakultas Sospol, Jurusan hubungan Internasional UGM (1974), As’ad memilih mengabdi pada Badan Intelijen Negara (BIN). Ia juga pernah mengenyam pindidikan di LIPIA. Kareirnya yang cemerlang di BIN, membuat ia dipercaya bertugas di puluhan negara. Tak salah jika−berbekal pengalaman serta pendidikan yang memadai−buku-buku yang ditulis dan diterbitkannya selalu menarik perhatian pembaca.
            Buku ini merupakan hasil riset pribadi yang As’ad lakukan selama mengabdi di BIN. Kegelisahannya akan ancaman ideologis atas ideologi tunggal negara Indonesia, yakni Pancasila, membuat hatinya terpanggil untuk melakukan riset dan menerbitkan buku ini. Tujuannya tidak lain supaya kita dapat mengambil pelajaran agar “tidak terantuk pada batu yang sama”−setelah melewati fase yang penuh krisis dan kerawan akibat hiruk-pikuk sosial-politik selama 12 tahun yang lalu−serta mempunyai bekal yang cukup dalam menyiapkan langkah ke depan secara lebih bijak.
            Kita tahu, liberalisasi politik pasca tumbangnya rezim otoritarian hampir saja menggoyahkan sendi-sendi kestabilan sosial dan politik serta keamanan di negeri ini. Pasalnya, platform politik luput dari perhatian para elit saat itu. Dalam artian, konsentrasi kaum elit hanya tercurah pada ambisi untuk merubuhkan rezim otoritarianisme, sementara bagaimana masa depan sistem politik baru harus ditata belum sempat terfikirkan. Akibatnya, liberalisasi politik terjadi tanpa kendali yang mapan. Pemilu yang didikuti puluhan partai kembali terjadi di tanah pertiwi. Selain itu, aneka warna gerakan sosial semakin menjamur dan konflik horisontal mewabah di mana-mana.
Ironisnya, kecarut-marutan itu tak juga membuat kaum elit sadar akan ‘kebebasan semu’ yang sedang mereka rayakan. Mereka semakin hanyut terbawa arus eforia politik kekuasaan. Mereka beramai-ramai membentuk partai politik, tokoh-tokoh masyarakat menjadi rebutan untuk mengisi struktur partai. Dan kekuatan-kekuatan ideologi sarat kepentingan (yang hampir mati) pun kembali mendapatkan tempat.
Di Indonesia, dalam catatan As’ad, terdapat lima tipologi besar ideologi politik yang secara aktual menjadi orientasi politik berbagai kelompok gerakan selama masa reformasi. Ideologi-ideologi ini merentang di antara dua ideologi besar, yakni ideologi sekuler dan ideologi berbasis ajaran agama. Kelima tipologi ideologis itu ialah kiri-radikal, kiri-moderat, kanan-konservatif, kanan-liberal dan Islamisme.
Islamisme sebagai ideologi politik pada dasarnya dapat dibagi ke dalam empat kelompok gagasan, yakni Islam modernis, Islam tradisionalis-konservatif, Transformisme Islam, dan Islam Fundamentalis. Seperti halnya tipologi ideologi besar yang bersumber dari pemikiran Barat, masing-masing ideologi Islamisme itu juga memiliki sejumlah varian. (hlm. 64)
Islam modernis selalu berusaha memajukan Islam melalui pengembangan gagasan-gagasan rasionalisme, liberalisme, dan modernisme. Ada yang berorientasi politik, dan ada pula yang menempuh jalan kultural (menolak Islam-politik). Berbeda dengan ideologi Transformisme Islam yang memahami Islam harus menjadi kekuatan progresif dan tranformatif dengan misi menegakkan keadilan, membela yang tertindas, dan melawan kezaliman dalam politik maupun ekonomi. Varian ini memandang modernisme telah menghasilkan eksploitasi dan marjinalisasi terhadap kaum miskin, dhu’afa dan mustadh’afin. (hlm. 64-69)
Buku ini menarik untuk kita baca dan apresiasi sebab di dalamnya memuat data-data intelijen yang kaya dan kuat. Selain itu, mempelajari lebih dalam peta ideologi gerakan yang berkembang pasaca reformasi akan membantu kita menjaga keutuhan Pancasila dari serangan ideologis gerakan sosial-politik kontra-Pancasila. Selamat membaca!